Archive | AMALAN-AMALAN DIBULAN ISLAM BERDASARKAN ALQURAN DAN HADIST SAHIH RSS feed for this section

Amalan-Amalan di bulan Dzul Hijjah

3 Mar

1. Melaksanakan ibadah haji dan umroh.

2. Puasa dengan sempurna (penuh) pada sepuluh hari Dzul Hijjah atau semampunya, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji.

3. Memperbanyak amal shaleh dan ibadah-ibadah yang di sunnahkan, seperti; shalat, jihad, membaca Al quran, dan beramar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain.

4. Melantunkan takbir di sepanjang malam dan siang hingga shalat Ied (ini dinamakan takbir mutlak), begitu pula takbir muqayyad yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat jama’ah fardhu. Bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, waktu takbir di mulai sejak fajar hari Arafah, sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, waktunya di mulai dari Zhuhur hari qurban hingga Ashar hari tasyriq yang terakhir.

5. Qurban pada hari raya Iedul-Adha dan hari-hari tasyriq.

6. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi r bersabda,”Bila kalian melihat hilal (bulan sabit) Dzul Hijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkorban maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya”. Dan dalam riwayat yang lain dijelaskan, “Maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya hingga ia menyembelih qurbannya”.

7. Melaksanakan shalat Ied, mendengarkan khutbah, mendapat pencerahan ilmu, dan mengetahui hikmah disyari’atkannya.

Amalan-Amalan di bulan Dzul Qa’dah

3 Mar

Tanggal 25 Dzul Qa`idah dan Amalannya :

Keterangan:

@@ Malam Tanggal 25 Dzul Qaidah adalah malam bumi dibentangkan dari bawah Ka’bah di atas air. Malam ini adalah malam yang mulia, malam diturunkannya rahmat Allah swt. Barangsiapa yang bangun malam untuk beribadah, ia akan memperoleh pahala yang tak terhingga @@

@@ malam 25 Dzul-Qaidah adalah malam kelahiran Nabi Ibrahim (as) dan Nabi Isa (as), malam ini adalah malam dibentangkannya bumi dari bawah Ka’bah @@

@@ Hari ke 25 adalah hari dibentangkannya bumi. Hari ini adalah termasuk hari yang empat, yang utama dan istimewa untuk berpuasa setiap tahun. Hari ini adalah hari Allah swt menebarkan rahmat-Nya, hari beribadah dan berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, dan pahalanya sangat besar @@

Amalan-Amalan di bulan Syawwal

3 Mar

1. Tetap Menjaga Shalat Lima Waktu dan Shalat Jama’ah.
2. Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal.
3. Bertakbir mengagungkan kebesaran Allah.
4. Puasa enam hari di bulan Syawal.
5. Menjaga Sholat Malam.
6. Amalan yang kontinyu (ajeg), amalan yang paling dicintai.

Keterangan :

Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa telah berpuasa romadhon, lalu menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan syawal, maka (pahalanya) seperti puasa selama satu tahun”. (HR. Muslim:2785).

Cara menjalankannya sama saja dengan puasa di bulan romadhon atau puasa sunnah lainnya. Boleh dijalankan berurutan selama enam hari, atau juga boleh selang-seling asalkan masih dalam bulan syawal, InsyaAllah tidak memberatkan.

Selamat menjalankan…

Amalan-Amalan di bulan Ramadhan

3 Mar

1. Shiyam (puasa)
2. Berinteraksi dengan Al-Quran
3. Qiyam Ramadhan (Shalat Terawih)
4. Memperbanyak Dzikir, Do’a dan Istighfar
5. Shodaqoh, Infak dan Zakat
6. Menuntut Ilmu dan Menyampaikannya
7. Umrah
8. I’tikaf
9. Mencari Lailatul Qadar
10. Menjaga Keseimbangan dalam Ibadah

Do’a dan istighfaar pada saat mustajab di bulan Ramadhan adalah:

• Saat berbuka puasa

• Sepertiga malam terakhir, yaitu ketika Allah SWT. turun ke langit dunia dan berkata:Siapa yang bertaubat ? Siapa yang meminta ? Siapa yang memanggil, sampai waktu shubuh (HR Muslim)

• Memperbanyak istighfar pada waktu sahur. Allah Ta’ala berfirman, Dan waktu sahur mereka memohon ampun.

• Mencari waktu mustajab pada hari Jum’at, yaitu disaat-saat terakhir pada sore hari Jum’at.

• Duduk untuk dzikir, do’a dan istighfaar di masjid, yaitu setelah menunaikan sholat Shubuh sampai terbit matahari. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: Barangsiapa shalat Fajar berjama’ah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir hingga terbit matahari, lalu sholat dua rakaat, maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna (HR At-Tirmidzi).

Keterangan :

Karunia terbesar dari Allah untuk ummat Islam adalah bulan Ramadhan, karena dua hal terpenting di bulan Ramadhan adalah diwajibkannya Puasa dan turunnya Al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi pedoman bagi orang yang bertaqwa dan puasa mengantarkan orang beriman menjadi mutaqqiin. Dan amaliyah Ramdhan terfokus pada dua aktifitas tersebut. Sedangkan amaliah lainnya tidak lepas dari ibadah untuk mengkondisikan hati dalam menerima Al-Qur’an dan upaya orang beriman untuk mengaplikasikan Al-Qur’an.

Amalan-Amalan di bulan Sya’ban

3 Mar

1. Siapa yang memasuki bulan Sya’ban sementara dia punya qadha puasa Ramadhan, wajib baginya untuk segera menggantinya jika dia mampu, tidak boleh baginya untuk menundanya hingga setelah Ramadhan berikutnya jika tidak ada halangan.

Siapa yang tidak mengganti qadha puasanya hingga berakhir bulan Sya’ban maka wajib baginya bertaubat atas kelalaiannya dan dia tetap diwajibkan mengganti puasanya tersebut ditambah membayar kafarat setiap hari yang ditinggalkan dengan memberikan kepada orang miskin satu mud beras (atau makanan pokok lainnya).

2. Disunnahkan untuk memperbanyak shaum (puasa) pada bulan Sya’ban, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu selalu melakukannya. Dalam kitab As-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) terdapat hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan shaum selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat beliau memperbanyak shaum dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.”

Hikmah diperintahkannya untuk memperbanyak shaum pada bulan Sya’ban –wallahu a’lam- adalah sebagai pembukaan bagi bulan Ramadhan yang diwajibkan shaum padanya, agar terlatih untuk melakukan shaum pada bulan tersebut.

3. Tidak boleh menyambung shaum pada bulan Sya’ban hingga bulan Ramdhan.

Sehari atau dua hari terakhir pada bulan Sya’ban harus dihentikan, kecuali jika pada hari itu berbarengan dengan hari biasa dia melakukan shaum padanya, seperti hari Senin atau Kamis, maka dia boleh melakukannya.

Terdapat dalam kitab Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda:
“Jangan kalian dahulukan Ramadhan dengan shaum sehari atau dua hari, kecuali (pada hari) yang dia (biasa) shaum, maka shaumlah.”

Para ulama menyebutkan hikmahnya dalam masalah ini yaitu:

“Agar puasa bulan Ramadhan tidak ditambah dengan puasa selainnya sebagaimana untuk tujuan yang sama dilarang shaum pada hari raya (hari ‘Ied). Begitu juga – hikmah yang lainnya – sebagaimana diketahui bahwa antara perbuatan sunnah (nafl) dan perbuatan wajib (fardhu) hendaknya ada pemisah (jeda) waktu pelaksanaannya, sebagaimana antara shalat nafilah (sunnah) dan shalat fardhu.”

4. Memperbanyak shalawat, karena disamping Nabi Muhammad menyebut bulan ini dengan bulanku, pada bulan ini Allah menurunkan ayat yang memerintahkan kita untuk memperbanyak bacaan shalawat.

5. Mengkhususkan dan menambah porsi dan kualitas ibadah.

Perkara-Perkara Yang Tidak Disyari’atkan di bulan Sya’ban:

1. Mengkhususkan hari dan malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) dengan melakukan shaum dan shalat, semua perbuatan tersebut tidak ada riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, juga dari para sahabatnya. Hal tersebut merupakan perkara yang diada-adakan.

Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika datang malam Nisfu Sya’ban maka beribadahlah pada malam harinya dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah Ta’ala turun pada hari itu saat matahari terbenam di langit dunia seraya berfirman: “Siapa yang meminta ampun akan Aku ampuni, siapa yang minta rizki akan Aku beri rizki, siapa yang sakit akan Aku sembuhkan.”
Hadits ini dilemahkan oleh Imam Bukhari dan lainnya.

Adapun mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban, maka berkatalah Al-hafidz Ibn Rajab Rahimahullah:
“Mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat sejumlah hadits yang diperselisihkan kedudukannya, sebagian besar ulama melemahkannya, sedangkan Ibnu Hibban menyatakan shahih sebagiannya dan menempatkannya dalam kitab Shahihnya.”

(Latha’iful Ma’arif: 143). Perlu diketahui bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh ulama hadits sebagai orang yang menggampangkan dalam men-shahihkan hadits.

2. Di sebagian tafsir disebutkan bahwa: Malam mulia yang padanya diturunkan Al-Qur’an yang termasuk dalam firman Allah Ta’ala:

“inna anzalnahu fi lailatil qadr”

adalah malam Nisfu Sya’ban. Pendapat ini keliru dan menyimpang dari kandungan Al-Qur’an itu sendiri, dan para ulama telah membantahnya.

Al-Qurthubi seraya mengutip Abu Bakar bin Arabi berkata dalam tafsirnya:

“Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa malam tersebut (maksudnya Lailatul qadar) terjadi pada malam Nisfu Sya’ban, itu adalah pendapat yang keliru, karena Allah Ta’ala tatkala berfirman dalam kitab-Nya (syahru romadhonalladzi unzila fihilqur’an) menjelaskan bahwa waktu turunnya Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan dan kemudian menetapkan waktu malamnya dalam ayat ini: (fi lailati mubarokah) maka siapa yang menyangka bahwa hal tersebut terjadi pada waktu selainnya maka itu merupakan dusta yang sangat besar terhadap Allah Ta’ala.”

Keterangan :

Imam al Dailami meriwayatkan hadits riwayat Sayidah Aisyah, “Sya’ban adalah bulanku dan Ramadlan bulan Allah, Sya’ban adalah penyuci dan Ramadhan adalah penggugur (dosa)”.

Amalan-Amalan di bulan Rajab (berdasarkan tuntunan Al-Quran dan Hadist Sahih)

3 Mar

Mempersiapkan diri memasuki bulan ramadhan agar termasuk para pemenang di bulan tersebut dan memperoleh lailatul qadar. Persiapan dilakukan dengan cara melatih hati dan jasmani dengan ibadah dan ketaatan dan merendahkan diri di hadapan Allah serta melaksanakan segala perintahNya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Keterangan :

1. Tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut.

2. Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.(Al Bida’ Al Hawliyah, 275).

3. Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut:

1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.

2. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).

3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236).

Bulan rajab termasuk salah satu dari bulan-bulan haram sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.

Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa (At-Taubah 36)

Empat bulan haram itu disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW berikut :

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السماوات والأرض السنة اثنا عشر شهرا منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القَعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان (رواه البخاري ومسلم).

“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti pada hari penciptaan langit dan bumi, setahun terdapat dua belas bulan dan empat di antaranya adalah bulan haram dan tiga diantaranya berturut-turut, yaitu dzul qa’dah, dzul hijjah, muharram dan rajab mudhar yang berada di antara jumadil awal, jumadil akhir dan sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bulan-bulan haram memiliki kedudukan yang agung, dan bulan rajab termasuk salah satu dari empat bulan tersebut. Dinamakan bulan-bulan haram karena :

1. Diharamkannya berperang di bulan-bulan itu kecuali musuh yang memulai.

2. Keharaman melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dibulan ini lebih besar di bandingkan bulan yang lain.
Allah berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لا تحلوا شعائر الله ولا الشهر الحرام

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan janganlah melanggar kehormatan bulan-bulan haram” (Al-Maidah 2)

Yaitu janganlah melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan sehingga merusak kesucian bulan-bulan tersebut. Larangan ini mencakup melakukan atau beritikad melakukan perbuatan dosa.
Karena kedudukannya yang khusus itu mak hendaklah dijaga kesucian bulan-bulan haram dengan menjauhi maksiat, sebab kadar dosa dan maksiat akan diperbesar karena pemuliaan Allah atas bulan-bulan tersebut.

Karena itulah Allah telah secara khusus memperingatkan kita di ayat yang lalu agar jangan menzalimi diri di bulan-bulan itu padahal secara umum perbuatan tersebut diharamkan pada setiap waktu.

Amalan-Amalan di bulan Jumadal Akhirah

3 Mar

Amalan-amalan sunah di bulan Jumadil Akhir adalah sama seperti amalan-amalan sunah di bulan-bulan lainnya. Tidak ada amalan-amalan istimewa dibulan Jumadil Akhir yang menjadi amalan Rasulullah SAW ataupun para sahabat dan salafus-soleh. Kita dianjurkan untuk meningkatkan amalan-amalan kebaikan seperti biasanya.

Amalan-Amalan di bulan Jumadal Ula

3 Mar

Amalan-amalan sunah di bulan Jumadil Awal adalah sama seperti amalan-amalan sunah di bulan-bulan lainnya. Tidak ada amalan-amalan istimewa dibulan Jumadil Awal yang menjadi amalan Rasulullah SAW ataupun para sahabat dan salafus-soleh. Kita dianjurkan untuk meningkatkan amalan-amalan kebaikan seperti biasanya.

Amalan-Amalan di bulan Rabi’ul Akhir

3 Mar

Amalan-amalan sunah di bulan Rabi’ul akhir adalah sama seperti amalan-amalan sunah di bulan-bulan lainnya. Tidak ada amalan-amalan istimewa dibulan Rabi’ul akhir yang menjadi amalan Rasulullah SAW ataupun para sahabat dan salafus-soleh. Kita dianjurkan untuk meningkatkan amalan-amalan kebaikan seperti biasanya.

Peristiwa Penting di Bulan Rabi’ul Akhir

1. Peperangan, ada beberapa peperangan yang dicatat berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w yang berlaku di bulan Rabiulakhir diantaranya Peperangan Najran, Pengusiran kaum Yahudi Bani Nadir, Peperangan Al-Ghabah / Zi-Qarad dan Peperangan Al-Ghamar.

2. Pengepungan Damsyik – pada zaman Khalifah Abu Bakar As-Siddiq r.a diketuai oleh Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah dan Khalid bin Al Walid r.a tahun 14 Hijrah dan seterusnya membawa kepada pembukaan Damsyik.

3. Khalifah Abu Bakar As-Siddiq r.a meninggal dunia dan Saidina Umar Al-Khattab r.a di bai`ah menjadi Khalifah yang kedua.

4. Peperangan Jamal – tahun fitnah dimana Saidatina Aisyah r.ha terheret dalam kancah peperangan menentang Khalifah Ali r.a.

5. Ramai sahabat-sahabat yang gugur syahid diantaranya Talhah r.a dan Ibnu Zubir r.a. Imam Ghazali r.h meninggal dunia.

Amalan-Amalan di bulan Rabi’ul Awwal

2 Mar

Kesimpulan :

1. Memperbanyak shalawat serta salam untuk Rasulullah SAW.

2. Mengadakan walimah dengan berbagai kegiatan dengan tujuan meningkatkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW.

3. Bergembira dengan bersyukur atas hikmah (Rasulullah SAW) pada 9 Rabi’ul Awwal.

4. Bersedih pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal (Wafat Rasulullah SAW).

Di bulan ini setiap Muslim disunahkan untuk memperbanyak shalawat serta salam untuk Rasulullah SAW. Karena di bulan yang mulia ini telah tampak kebaikan yang merata kepada seluruh alam, telah tampak pula kebahagia’an orang-orang yang paling bahagia dengan terbitnya bulan penerang bumi, yaitu lahirnya Nabi Muhammad SAW di dunia ini. Dengan lahirnya Rasulullah di bulan ini, dikenanglah bulan Rabi’ul Awal sebagai hari yang paling penting bagi umat islam, oleh karena itu bulan ini dijadikan sebagai hari berkumpulnya umat islam untuk mendengarkan kisah kelahiran Rasulul islam yang sangat mulia, agar mereka memperoleh barakah dan keutamaan yang suci.

Umat islam selalu memperingati bulan kelahirannya, sehingga mengadakan walimah, dan menyedekahkan sebagian hartanya kepada saudaranya yang membutuhkan dalam bentuk apapun, mereka juga menampakkan kegembira’an mereka karena terlahirnya Rasulullah SAW, mereka selalu memperhatikan kisah kelahirannya, dengan penuh kekhusyu’an dan penghayatan, sehingga barakah Rasulullah SAW-pun menyelimuti hati mereka, sehingga membuat hati mereka tentram dan tenang.

Mungkin dalil-dalil ini sudahlah cukup sebagai jawaban atas pertanya’an diatas. Yang paling penting bagi seorang muslim adalah memperbanyak shalawat atas nabi Muhammad SAW di bulan ini. Karena salawat ini sendiri mempunyai keutama’an yang paling besar. Karena Allah SWT akan tetap menerima shalawat seseorang meskipun dalam ke’ada’an lalai.

Barang siapa membaca shalawat kepada nabi SAW, maka shalawat tersebut akan diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah Hadist: “Bershalawatlah kepadaku? Karena sesungguhnya shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”. Lain lagi dengan dzikir-dzikir yang lain, karena dzikir-dzikir yang lain membutuhkan kekhusyu’an agar dzikir-dzikir tersebut di terima oleh Allah SWT. Masih banyak lagi keutama’an shalawat kepada nabi.

Gembira dan senang dengan adanya Rasulullah SAW adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Al-Quran, yaitu firman Allah SWT :

( قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ )[يونس:58]

” Katakanlah dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya , hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Allah SWT telah memerintahkan kita untuk bergembira atas rahmat yang Allah berikan kepada kita. Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah rahmat yang paling mulia dan yang paling besar bagi kita. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman :

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين )[الأنبياء:107].

” Kita tidak mengutusmu kecuali sebagi rahmat bagi semua yang ada dialam semesta”.

Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid’ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid’ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur’an dan as-Sunah. Adapun maulid walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur’an dan as-Sunah.

Pada maulid Nabi di dalamnya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan as-Sunah.

Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.

Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar’i tersebut, akan tetapi masuk kategori tartib (penertiban).

Empat Peristiwa Penting di Bulan Rabi’ul Awwal :

1. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam lahir.
Beliau lahir di kota Makkah pada hari Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal pada tragedi pasukan bergajah (atau sering disebut dengan “Tahun Gajah”) yang bertepatan dengan tahun 571 Masehi. Beliau adalah anak dari Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab, seorang wanita terkenal dikalangan bangsa Quraisy.

2. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan Isra’ Mi’raj.
Peristiwa Isra’ Mi’raj sebenarnya terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 13 kenabian, bukan 27 Rajab sebagaimana banyak diyakini sekarang ini. Isra’ adalah perjalanan Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dari Masjid al-Haram ke Baitul Maqdis (Palestina) sedangkan Mi’raj adalah perjalanan dari Baitul Maqdis ke langit dunia (langit ketujuh). Disinilah pertama kalinya keluar perintah sholat 5 (lima waktu).

3. Hijrah ke Madinah
Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam hijrah dari kota Makkah menuju Madinah pada malam Senin, awal bulan Rabi’ul Awwal tahun 1 H (16 September 622 M). Sebenarnya perjalanan Hijrah ini dimulai pada tanggal 27 Shaffar tahun 14 Kenabian (622 M) ketika Beliau bersama Abu Bakar Ash Shiddiq rodhiyallohu ‘anhu meninggalkan rumah Beliau menuju Gua Tsur. Adapun pada malam Rabi’ul Awwal itu adalah fase dimulainya perjalanan menuju kota Madinah (Gua Tsur masih terletak di sekitar Makkah).

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dalam perjalanannya sempat menyinggahi Quba pada hari Senin 8 Rabi’ul Awwal tahun 14 Kenabian kemudian tiba di Madinah pada hari Jum’at di bulan tersebut.

Jadi Hijrah Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam itu terjadi di bulan Rabi’ul Awwal bukan bulan Muharram seperti yang banyak diyakini.

4. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam wafat
Tepat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriyah, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam wafat di kota Madinah setelah mengalami sakit selama kurang lebih 14 hari. Beliau dimakamkan di kamar Aisyah rodhiyallohu ‘anha.

Satu kesalahan yang sangat fatal adalah, pada malam 12 Rabi’ul Awwal biasanya terjadi puncak perayaan maulid yang menunjukkan kesenangan atas lahirnya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam padahal Beliau meninggal dunia justru pada tanggal tersebut sehingga bersedih pada tanggal tersebut sebenarnya lebih utama daripada bersenang-senang. Meninggalnya beliau banyak yang menyebutkan sebagai salah satu dari beberapa tanda-tanda akan datangnya hari Kiamat. Jadi sangat tidak baik bila kita menunjukkan kesenangan pada malam 12 Rabi’ul Awwal.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.